Tampilkan postingan dengan label Hikmah Dari Seberang. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Hikmah Dari Seberang. Tampilkan semua postingan

Minggu, 21 Juni 2015

Tersenyum Pada Nasib

0

Sepuluh tahun yang lalu, ketika aku masih kuliah, aku bekerja di museum Natural History milik Universitasku. Suatu hari ketika sedang bekerja sebagai kasir toko barang-barang cenderamata, aku melihat sepasang suami istri yang telah lanjut usia bersama seorang gadis kecil di kursi roda. Kuamati gadis itu, ia seakan duduk dengan posisi aneh, baru kemudian kusadari bahwa gadis itu ternyata tidak memiliki kaki dan tangan, hanya kepala, leher, dan tubuh. Ia mengenakan pakaian putih kecil bertitik-titik merah. Kedua orang tua itu mendorongnya ke arahku.

Aku melihat mesin hitung, lalu menoleh ke arah gadis kecil dan mengkedipkan mata kepadanya. Ketika mengambil uang dari kakeknya, aku sering kali melirik gadis kecil itu. Tak disangka ia tersenyum sangat manis kepadaku. Senyuman paling lebar yang pernah kulihat. Tiba-tiba saja cacatnya hilang dan yang kulihat hanyalah seorang gadis cantik yang senyumannya melumerkan diriku. Sebuah senyuman yang saat itu juga memberiku pengertian baru tentang kehidupan ini. Ia menarikku, mahasiswi miskin yang sengsara ini ke dalam dunianya, dunia yang penuh senyum, cinta, dan kehangatan.

Itu sepuluh tahun yang lalu dan sekarang aku telah menjadi seorang pengusaha sukses. Namun, kapanpun aku merasa sedih dan memikirkan kesulitan-kesulitan di dunia, aku segera teringat gadis kecil ini, dan pelajaran mengagumkan yang telah diberikannya kepadaku. 

 

Sabtu, 20 Juni 2015

Maafkan Bila Aku Mengeluh!

0

 

Hari ini, di sebuah bus, kulihat seorang hadis berambut pirang. Aku ingin secantik dia. Tiba-tiba ia bangkit dan melangkah gontai. Ia berkaki satu, berjalan pincang, memakai tongkat kayu. Namun ketika lewat, ia tersenyum.

Oh Tuhan, maafkan aku bila selalu mengeluh. Aku punya dua kaki. Dunia ini milikku. 





Aku berhenti untuk membeli gula-gula. Anak laki-laki penjualnya sangat menyenangkan. Aku berbicara kepadanya, ia pun menyambut gembira. Seandainya aku terlambat, aku takkan menyesal. Ketika aku hendak pergi, ia berkata, “Terima kasih. Engkau telah begitu baik kepadaku. Menyenangkan sekali berbicara dengan orang sepertimu. Ketahuilah,” katanya, “sesungguhnya aku buta.”

Oh Tuhan, maafkan aku bila selalu mengeluh. Aku punya dua mata. Dunia ini milikku.
 


Lalu, ketika sedang menyusuri jalan, aku melihat seorang anak bermata biru. Ia berdiri melihat anak-anak lain bermain. Ia tidak tahu apa yang bisa ia lakukan. Aku berhenti sejenak, lalu berkata, “Mengapa kau tidak bermain dengan yang lain, Nak?” Ia menatap ke muka, tidak menjawab. Kemudian aku pun sadar, ternyata ia tuli.

Oh Tuhan, maafkan aku bula selalu mengeluh. Aku punya dua telinga. Dunia ini milikku.

Dengan dua kaki yang dapat membawaku kemana saja, dengan dua mata yang dapat memandang cahaya mentari ketika terbenam, dengan dua telinga yang dapat mendengar apa saja yang ingin kuketahui, oh . . . Tuhan, maafkan bila aku selalu mengeluh.

Kamis, 18 Juni 2015

Hari Terbaik Dalam Hidupku

0


anak kecil

Hari ini, ketika bangun tidur, tiba-tiba kusadari, bahwa hari ini adalah hari terbaik dalam hidupku.

Dahulu ada saat-saat yang aku berpikir apakah aku akan hidup sampai hari ini. Tapi ternyata aku berhasil bertahan sampai saat ini. Karenanya, aku sekarang akan merayakannya!

Hari ini, aku akan merayakan kehidupan menakjubkan yang telah kutempuh sampai saat ini: keberhasilan yang kuraih, berbagai nikmat yang kuterima, dan bahkan … benar sekali … kesulitan-kesulitan hidup yang karenanya aku menjadi lebih kuat.

Aku akan menghargai karunia-karunia Tuhan yang tampak kecil: embun pagi, matahari, awan, pepohonan, bunga-bunga, burung-burung.

Hari ini, tak satu pun dari ciptaan-ciptaan Tuhan yang mengagumkan ini akan lolos dari perhatianku.

Hari ini, aku akan berbagi kebahagiaan hidupku dengan orang lain. Aku akan membuat seseorang tersenyum. Aku akan melakukan sesuatu yang lain, aku akan melakukan suatu kejutan kebajikan untuk seseorang yang sama sekali tidak kukenal.

Hari ini, aku akan dengan tulus menghibur seseorang yang sedang dirundung kesedihan.

Aku akan mengatakan kepada seorang anak betapa istimewanya ia. Dan memberitahu orang yang kucintai betapa aku sangat peduli kepadanya, dan betapa ia sangat berarti bagiku.

Hari ini adalah saatku berhenti menyusahkan diri memikirkan apa-apa yang tidak kumiliki, lalu mulai mensyukuri semua hal yang indah yang telah dikaruniakan Tuhan kepadaku.

Aku akan ingat, bahwa mengkhawatirkan sesuatu hanya membuang-buang waktu saja, karena keyakinanku pada Tuhan dan rencana-Nya menyadarkanku bahwa semua akan berlangsung dengan baik-baik saja.

Malam ini, sebelum tidur, aku akan keluar, mengangkat pandanganku ke langit. Aku akan berdiri khidmat menatap keindahan bulan dan bintang, lalu akan kupuji Tuhan atas kekayaan yang agung ini.

Seiring dengan berakhirnya hari, dan kepalaku terbaring di atas bantal, aku akan mengucap syukur kepada Tuhan Yang Maha Besar atas kehidupanku yang sangat baik ini. Kemudian aku akan tidur seperti tidurnya anak-anak yang bahagia, bergelora dengan harapan karena aku tahu bahwa esok akan menjadi …. hari yang paling baik dalam hidupku. (Author Unknown) 


Hal-Hal Yang Terlewatkan

0


Ketika masih di SMA dahulu, aku memiliki guru istimewa. Suaminya tiba-tiba meninggal karena serangan jantung. Kira-kira seminggu setelah kematian suaminya, ia berbagi pengalaman batin dengan murid-muridnya di kelas. Ketika matahari akhir siang menerobos lewat jendela kelas, dan jam pelajaran hampir habis, ia meletakkan beberapa barang ke pinggir meja lalu duduk di atasnya.

Dengan roman muka yang syahdu, ia berdiam sejenak lalu berkata, “Sebelum pelajaran selesai, aku ingin berbagi pandangan dengan kalian. Meski tidak ada hubungan dengan pelajaran, pembicaraan ini sangat penting. Setiap orang dari kita dilahirkan ke bumi untuk belajar, berbagi, mencinta, menghargai, berbakti. Tidak ada seorang pun dari kita mengetahui kapan pengalaman fantastis ini akan berakhir. Nyawa kita dapat setiap waktu melayang. Mungkin, ini adalah cara Tuhan untuk memberitahu bahwa kita harus memanfaatkan sebaik-baiknya setiap hari yang kita lewatkan.”

Sampai di sini matanya berkaca-kaca, lalu ia melanjutkan, “Oleh karena itu, aku minta pada kalian semua berjanji kepadaku, mulai saat ini, dalam perjalanan kalian ke sekolah, atau dalam pelajaran kalian pulang ke rumah, carilah sesuatu yang dapat dilihat, boleh saja berupa bau-bauan, misalnya bau roti yang sedang dibakar di salah satu rumah yang kau lewati, atau suara tiupan angin sepoi-sepoi di dedaunan, atau cahaya pagi yang menerpa daun yang sedang melayang jatuh ke bumi di musim gugur. Perhatikanlah semua itu, dan syukurilah, meskipun semua itu tampak biasa-biasa saja. Kita harus menjadikan kejadian-kejadian itu sebagai hal-hal penting yang harus diperhatikan, karena semua itu setiap saat dapat dicabut dari kita.”

Suasana kelas menjadi hening. Kami merapikan buku lalu keluar dari kelas tanpa mengeluarkan suara.

Dalam perjalananku pulang siang itu, aku memperhatikan lebih banyak dari yang kulihat selama satu semester. Kadang-kadang aku masih teringat guru itu dan kesan yang ia goreskan di hatiku. Sekarang aku mulai menghargai hal-hal yang dulu aku anggap biasa saja. (Author Unknown) 

Rabu, 17 Juni 2015

Aku Mungkin Tak Pernah Lagi

0

 
Aku mungkin takkan melihat hari esok

Tak ada jaminan

Dan semua yang terjadi kemarin

Menjadi bagian dari sejarah


Meramal masa depan, aku tak dapat

Mengubah masa lampau, aku tak mampu

Milikku hanya hari ini

Yang kelak akan menjadi kenangan


Aku harus bijak memanfaatkan saat-saatku

Karena semua itu akan berlalu

Lalu lenyap selamanya

Menjadi bagian masa lalu


Aku harus curahkan kasih sayangku

Membantu bangkit mereka yang jatuh

Menjadi teman bagi yang kesepian

Membuat hidup mereka sempurna


Kejahatan yang kulakukan hari ini

Tak dapat kubatalkan

Persahabatan yang gagal kubina

Mungkin tak pernah dapat kuusahakan


Aku mungkin tak punya kesempatan lain

Tuk bersujud mengucap do’a


Tuhan…!

Dengan rendah hati kubersyukur

Atas hari ini yang kau karuniakan

kepadaku
(Author Unknown)

Wanita Lain [The Other Woman]

0


Setelah menikah selama dua puluh satu tahun akhirnya kutemukan cara untuk menjaga cahaya cinta tetap bersinar.

Beberapa waktu yang lalu, aku keluar bersama wanita yang lain dari biasanya. Gagasan itu justru datang dari istriku sendiri.

“Aku yakin kau akan mencintainya,” kata istriku.

“Tapi aku mencintaimu,” protesku.

“Aku tahu itu, tapi kau juga akan mencintainya.”

Sebenarnya wanita yang dimaksud istriku tidak lain adalah ibuku sendiri yang telah menjanda selama 19 tahun. Tuntutan pekerjaan serta tiga anakku membuatku jarang mengunjunginya.

Malam itu aku menelpon untuk mengajaknya kencan makan malam dan menonton bioskop.

“Ada apa? Kau baik-baik saja, kan?” ibuku balik bertanya.

Ibuku termasuk tipe orang yang beranggapan bahwa telepon di larut malam dan undangan mendadak adalah pertanda berita buruk.

“Kupikir akan sangat menyenangkan melewatkan waktu bersama ibu,” jelasku. “Hanya kita berdua saja.”

Dia berpikir sejenak lalu berkata, “Aku setuju dengan rencanamu itu.”

Jum’at itu, setelah kerja, aku meluncur ke rumahnya untuk menjemputnya. Aku sedikit gelisah. Sesampainya di sana, kuperhatikan dia juga agak salah tingkah. Dia memakai mantel, menunggu di depan pintu. Rambutnya dikeriting dan memakai baju yang dikenakannya di ulang tahun perkawinannya yang terakhir. Dia tersenyum dengan wajah seberseri bidadari.

“Aku bercerita kepada teman-temanku bahwa aku kencan dengan anakku. Mereka terkesan,” katanya sambil memasuki mobil. “Mereka tidak sabar menunggu cerita pertemuan kita ini.”

Kami pergi ke restoran yang cukup baik dan nyaman. Ibuku menggandeng tanganku seakan-akan ia adalah istri seorang presiden. Setelah kami duduk, kubaca menu. Mata ibuku hanya bisa melihat tulisan yang tercetak dengan huruf besar.

Selama makan kuperhatikan ibu selalu menatapku. Senyuman nostalgia tersungging di bibirnya. “Biasanya, aku yang selalu membacakan menu ketika kau masih kecil,” kata ibu.

“Sekarang santailah, biar aku yang ganti membaca untuk membalas kebaikan ibu,” jawabku.

Selama makan malam, kami terlibat dalam pembicaraan yang mengasikkan. Tidak ada yang istimewa, hanya tentang kejadian-kejadian terakhir dalam kehidupan kami berdua. Kami bicara banyak sampai lupa acara nonton film. Kemudia aku mengantarkannya pulang.

“Aku akan keluar lagi bersamamu, tapi atas undanganku,” kata ibuku. “Kalau kau setuju?”

Aku segera menyatakan persetujuanku.

Sesampainya di rumah, istriku bertanya, “Bagaimana acara makan malammu?”

“Sangat menyenangkan. Jauh lebih menyenangkan dari yang kubayangkan,” jawabku.

Beberapa hari kemudian ibuku meninggal dunia karena serangan jantung. Kejadian itu begitu mendadak sehingga aku tidak sempat berbuat apa-apa. Kemudian aku menerima amplop ibuku yang berisi kwitansi tanda lunas dari sebuah rumah makan yang rencananya akan kami kunjungi berdua. Amplop itu juga berisi secarik surat berbunyi:

“Telah kubayar lunas. Mungkin aku tidak bisa kesana bersamamu, tapi aku tetap membayar untuk dua orang: untukmu dan istrimu. Kau takkan pernah tahu arti malam itu bagiku. Aku mencintaimu.”

Saat itu aku baru menyadari betapa pentingnya mengucapkan: “Aku Mencintaimu” dan memberi orang yang kita cintai waktu yang layak diterimanya.

Dalam hidup ini tak ada yang lebih penting dari Tuhan dan keluargamu. Luangkan waktu yang layak bagi mereka karena hal itu tak dapat ditunda sampai waktu lain. (Author Unknown)

Sabtu, 07 Februari 2015

NILAI SEBUAH WAKTU

0


Untuk memahami nilai SATU TAHUN, tanyalah kepada murid yang tidak naik kelas.
Untuk memahami nilai SATU BULAN, tanyalah kepada ibu yang melahirkan bayi premature.
Untuk memahami nilai SATU MINGGU, tanyalah kepada editor sebuah koran mingguan.
Untuk memahami nilai SATU JAM, tanyalah seseorang yang hendak ditemui kekasihnya.
Untuk memahami nilai SATU MENIT, tanyalah kepada orang yang ketinggalan kereta api.
Untuk memahami nilai SATU DETIK, tanyalah kepada orang yang lolos dari kecelakaan.
Untuk memahami nilai SATU MILIDETIK, tanyalah kepada orang yang memenangkan medali perak dalam olimpiade.

Hargailah setiap detik yang kau miliki! Ingatlah, waktu tidak menunggu siapa pun. Kemarin adalah sejarah, esok adalah misteri, hari ini adalah karunia.

(Author Unknown)

Senin, 02 Februari 2015

RESEP PEMBASMI STRES [Stress Busters]

0

Berdoa.

Tidur pada waktunya.

Bangun tepat waktu sehingga kau dapat memulai harimu dengan tidak terburu-buru.

Katakan “tidak” pada proyek yang tidak cocok dengan perencanaan waktumu (time schedule)-mu, atau yang dapat membahayakan kesehatanmu.

Delegasikan tugas kepada orang lain yang mampu.

Sederhanakan dan jangan kacaukan hidupmu.

Yang kurang terkadang terasa lebih. (Meski “satu” itu sering kali tidak cukup, tapi dua terkadang terlalu banyak)

Luangkan waktu untuk melakukan berbagai hal dan pergilah ke berbagai tempat lain.

Atur langkahmu. Rencanakan perubahan besar dan rencanakan kerja lembur untuk proyek yang rumit. Jangan himpun seluruh pekerjaan berat sekaligus.

Lalai satu hari setiap harinya.

Hiduplah menurut anggaran jangan gunakan kartu kredit untuk pembelian biasa (sehari-hari).

Sediakan berbagai cadangan: cadangan kunci mobil di dompetmu, cadangan kunci rumah yang kau kubur di kebunmu, cadangan perangko, dll.

JM (Jaga Mulut) kalimat pendek ini dapat melindungimu dari kesulitan panjang.

Lakukan olah raga yang cukup.

Makanlah dengan benar.

Rapikan barang-barang sehingga semua terletak pada tempatnya.

Ketika mengendarai mobil dengarkanlah kaset yang dapat membantu memperbaiki kualitas hidupmu.

Buatlah catatan untuk gagasan dan inspirasi yang muncul di benakmu.

Luangkan waktu setiap hari untuk menyendiri.

Ada masalah? Bicarakan langsung dengan Tuhan di tempat itu juga. Jangan tunggu sampai datang waktu beribadah.

Bersahabatlah dengan orang-orang saleh.

Tertawalah!

Tertawalah lagi.

Kembangkan sikap pemaaf, kebanyakan orang telah berusaha sebaik mungkin.

Berbaik hatilah terhadap orang-orang yang jahat (mereka mungkin sangat membutuhkan sikap itu).

Kurangilah bicara, perbanyaklah mendengar.

Kurangi kecepatan gerakanmu.

Ingatkan dirimu bahwa kau bukan General Manager jagad raya ini.

Setiap malam sebelum tidur, renungkanlah satu nikmat yang belum pernah kau syukuri.

(Author Unknown)

Minggu, 01 Februari 2015

MENGHERANKAN BUKAN?

0

      Meurnut penielitan Unisvetrias Cabmrigde, tak jdai saol baaigmnaa urtuan hruuf dlaam sutau ktaa, ynag pialng petning adlaah huurf petrama dan traekhir hraus telrteak pdaa tmpeat ynag baner, apadun huurf laninya dpaat tdiak brateuran dan kmau daapt memcabanya tapna megnalami kelisutan. Ini dibabsekan kaerna pkiiran maunsia tiadk mebamca degnan mehliat ktaa hruuf per huurf, tpai mebmaca ktaa seabgai sautu kestuaan.



Kamis, 29 Januari 2015

APAKAH KAU MENYADARINYA?!

0


Kita dilahirkan dengan dua mata di bagian muka. Maka itulah mengapa kita tidak boleh selalu menatap kebelakang, akan tetapi memandang apa-apa yang ada di hadapan kita, bahkan memandang jauh ke muka.


Kita dilahirkan dengan dua daun telinga, kiri serta kanan. Seharusnya kita mendengar persoalan dari kedua belah pihak, seharusnya kita bersedia menerima pujian dan juga celaan. Lalu menetapkan mana yang benar dari keduanya.


Kita dilahirkan dengan otak yang dilindungi oleh tulang tengkorak. Meski tampak sangat miskin, tetapi sesungguhnya kita kaya karena tiada seorangpun dapat mencuri isi otak kita.


Kita dilahirkan dengan dua mata, dua telinga, tapi satu mulut. Mulut bisa menjadi senjata yang tajam. Ia dapat melukai, mencumbu dan membunuh pula. Karenanya, sedikitkan bicara, banyakkan mendengar serta melihat.



Kita lahir dengan hanya satu jantung hati, terletak jauh di bawah tulang rusuk yang mana mengingatkan kita agar selalu menghargai dan memberikan cinta dari lubuk hati yang paling dalam. Belajarlah untuk mencintai dan dicintai, tapi janganlah kau berharap orang-orang akan mencintaimu seperti/sebanyak cintamu kepada mereka. Berikan cintamu tanpa mengharap balasan niscaya kau dapati cinta menjadi lebih indah.

Rabu, 28 Januari 2015

Sxtiap Orang Adalah Pxnting

0



Seorang manager memberitahu karyawannya tentang betapa pentingnya ia bagi perusahaan dengan menulis memo berikut:

      Kamu adalah orang pxnting. Mxskipun mxsin kxtikku modxl kuno, tapi ia dapat bxkxrja dxngan baik, kxcuali satu huruf saja. 

       Kau mungkin bxrfikir bahwa jika sxmua huruf dapat bxkxrja dxngan baik dan hanya satu saja yang rusak, maka tidak ada yang akan mxmpxrhatikan. Tapi txrnyata kxrusakan pada satu huruf saja dapat mxnghancurkan sxmua usaha yang txlah dirintis.
       
       Kau mungkin bxrbicara dalam hati, "Ahh...., aku hanyalah satu orang. Mustahil ada yang mxmpxrhatikan apabila aku tidak bxrsungguh-sungguh." Tapi sungguh hasilnya akan sangat bxrbxda. Sxbab, untuk mxmiliki suatu lxmbaga yang xfxktif, suatu organisasi harus didukung olxh sxmua anggotanya dxngan sxgxnap kxmampuan mxrxka.

Jadi, lain kali jika kau mxnganggap dirimu tidak pxnting, maka ingatlah mxsin kxtik kunoku ini. 

Kamu adalah orang yang pxnting...!
  

Minggu, 25 Januari 2015

Pilihan Setiap Hari

0

Hari ini aku bangun pagi sekali dengan kebebasan untuk memilih hari macam apa yang akan kujalani.

Hari ini aku boleh berkeluh kesah karena hujan sepanjang hari atau bersyukur karena rumput di halaman mendapat siraman gratis.

Hari ini aku boleh merasa sedih karena tidak punya uang, atau merasa senang karena kondisi keuanganku menuntut agar aku merencanakan pembelanjaanku dengan bijak dan menuntutku untuk tidak melakukan pemborosan.

Hari ini aku boleh mengomel tentang badanku yang kurang sehat, atau bergembira karena aku masih dibiarkan hidup di dunia.

Hari ini aku boleh menyesali apa-apa yang oleh orang tuaku tidak diberikan kepadaku ketika aku menginjak dewasa, atau bersyukur karena aku terlahir ke dunia berkat mereka.

Hari ini aku boleh menangis karena mawar-mawar itu berduri atau bersyukur karena duri-duri iru ditumbuhi mawar.

Hari ini aku boleh mengomel karena harus bekerja atau merasa gembira karena punya pekerjaan.

Hari ini aku boleh menggerutu karena tugas rumah tangga yang harus kuselesaikan atau merasa bersyukur karena mempunyai naungan untuk jiwa dan ragaku.

Hari ini terbentang di hadapanku menunggu untuk dibentuk, dan di sinilah aku, sang pemahat siap membentuknya ke dalam rupa yang kukehendaki.

Bagaimana keadaan hari ini semua tergantung kepadaku. Dan aku harus menentukan hari macam apa yang kekehendaki.



Adapaun kau, bagaimana akan kau jalani hari ini?

Selasa, 09 September 2014

Tujuh Keajaiban Dunia

0



Sekelompok murid ditugaskan untuk membuat daftar tentang segala sesuatu yang mereka anggap sebagai tujuh keajaiban dunia. Meskipun terjadi beberapa ketidaksepakatan, namun kebanyakan murid membuat daftar sebagai berikut:

1. Piramid di Mesir

2. Taj Mahal

3. Grand Canyon

4. Terusan Panama

5. Empire State Building

6. St. Peter’s Basilica

7. Tembok Cina

Ketika mengumpulkan kertas para murid, Pak Guru memperhatikan ada seorang murid perempuan yang belum menyerahkan daftarnya, lalu ia bertanya apakah ia mengalami kesulitan dalam menyusun daftarnya.

Murid perempuan itu menjawab, “Ya, ada kesulitan sedikit. Aku tidak bisa memutuskan mana yang harus kudaftar. Ada begitu banyak keajaiban.”

Pak Guru berkata, “Jika demikian, bacakan kepadaku apa-apa yang telah kau catat, mungkin nanti aku bisa membantumu.”

Murid itu ragu sejenak, tapi kemudian membacakan daftarnya, “Menurutku, tujuh keajaiban dunia adalah:

1. Menyentuh

2. Merasakan

3. Melihat

4. Mendengar

Ia ragu sejenak lalu menambahkan:

5. Meraba

6. Tertawa

7. Dan Mencintai”

Ruang kelas menjadi begitu sunyi sehingga suara jarum jatuh pun dapat terdengar.

***

Kegiatan yang sering kita abaikan, kita anggap sepele, dan biasa sesungguhnya merupakan kegiatan yang menajubkan. Ini adalah peringatan bahwa, hal-hal yang paling berharga dalam kehidupan adalah hal-hal yang tidak dapat kita beli.

Kamis, 14 Agustus 2014

Nilai Sejati

0


Seorang pembicara terkenal memulai seminarnya dengan memegang uang $100 dalam ruang yang berisi 200 orang.

“Siapa yang mau uang $100 ini?” tanyanya kepada peserta seminar.

Semua tangan terangkat ke atas.

“Aku akan memberikan uang ini kepada salah seorang dari kalian, tapi biar aku beginikan dulu….,” katanya sambil membuat kusut uang itu.

Setelah uang itu benar-benar kusut, ia bertanya lagi, “Siapa yang masih menginginkan uang ini?”

Semua tangan mengacung ke atas.

“Nah…,” kata si pembicara, “bagaimana kalau aku beginikan?”

Ia menjatuhkan uang itu ke lantai lalu menggilas-gilas dengan sepatunya. Setelah uang itu benar-benar kusut dan kongtor, ia mengambilnya.

“Nah, sekarang siapa yang masih menghendaki uang ini?,” tanya si pembicara.

Tangan-tangan masih mengacung ke atas.

“Sahabat-sahabatku, kalian semua telah mempelajari sesuatu pelajaran penting. Apapun yang kulakukan terhadap uang ini, kalian masih menginginkannya, karena uang ini tidak berkurang nilainya. Ia masih tetap $100,” jelas si pembicara.

*****

Berulang kali dalam hidup ini, kita jatuh, kusut, dan tergilas dalam kotoran akibat keputusan yang kita ambil sendiri, atau keadaan yang menghalangi kita. Kita merasa seakan-akan tidak berharga lagi. Namun, apapun yang telah dan akan terjadi, kalian tidak pernah kehilangan nilai kalian.

Kotor… bersih… kusut… atau rapi, kalian masih tetap berharga di mata orang-orang yang mencintai kalian.

Kalian adalah istimewa… jangan lupakan itu.

Hitunglah berbagai nikmat yang telah kalian terima selama ini, jangan hanya hitung problem kalian.

Selasa, 12 Agustus 2014

Kehidupan Di Desa

0



Suatu hari seorang ayah dari keluarga yang sangat kaya membawa anaknya ke desa untuk menunjukkan kepadanya kehidupan orang-orang miskin. Mereka tinggal beberapa hari di rumah seorang petani miskin. Sekembalinya dari desa, sang ayah bertanya kepada anaknya, “Bagaimana menurutmu perjalanan kita ini?”

“Hebat, Ayah,” kata anaknya.

“Apakah kau melihat bagaimana orang-orang miskin itu hidup?”

“Ya.”

“Lalu pelajaran apa yang dapat kau ambil dari perjalanan itu?” tanya ayahnya dengan bangga.

“Aku baru sadar bahwa kita punya dua anjing sedangkan mereka punya empat. Kita punya kolam renang yang luasnya sampai tengah kebun, sedang mereka mempunyai sungai yang tak memiliki ujung. Kita mengimpor lentera untuk kebun kita, mereka memiliki bintang-bintang di malam hari. Teras kita sampai halaman depan, sedang mereka memiliki seluruh Horizon. Kita memiliki tanah tempat tinggal yang kecil, mereka memiliki halaman sejauh mata memandang. Kita mempunyai pembantu-pembantu yang melanyani kita, sedang mereka memberikan pelayanan kepada orang lain. Kita membeli makanan kita, mereka memetik sendiri makanan mereka. Kita memiliki pagar yang mengelilingi dan melindungi kekayaan kita, mereka memiliki teman yang melindungi mereka.”

Sampai disini, sang ayah tak bisa berkata apa-apa. Kemudian anaknya menambahkan, “Ayah, terimah kasih, engkau telah menunjukkan betapa miskinnya kita.”

***

Kita sering kali lupa pada segala yang kita meliki dan memusatkan perhatian hanya pada apa-apa yang tidak kita miliki.

Benda-benda yang tidak berniali di mata kita bisa jadi merupakan barang berharga di mata orang lain. Semua itu tergantung pada perspektif seseorang. Banyangkan apa yang terjadi bila kita semua mensyukuri karunia yang telah kita peroleh daripada merasa gelisah karena menghendaki lebih banyak.

Nikmatilah segala yang telah kau miliki, perhatikan kekayaan (nilai) yang terkandung di dalamnya.

Senin, 11 Agustus 2014

Orang Paling Kaya

0



Seorang tuan tanah kaya bernama Carl sering mengendarai kuda mengelilingi perkebunannya yang amat luas dan mengagumi dirinya sendiri atas kekayaannya yang luar biasa.

Suatu hari ketika sedang mengendarai kuda kesanyangannya ia bertemu Hans, petani tua penyewa tanahnya yang sedang duduk di bawah pohon.

“Sedang apa kau?” tanya Carl.

“Aku sedang bersyukur kepada Tuhan atas makanan yang diberikan-Nya kepadaku,” jawab Hans.

“Kalau hanya makanan seperti itu, aku tak perlu harus bersyukur kepada Tuhan,” sanggah Carl.

“Tuhan telah memberiku semua yang kubutuhkan, dan aku merasa bersyukur.” Petani itu kemudian menambahkan, “Aneh sekali kau mampir kemari hari ini. Sebab, tadi malam aku bermimpi, ada suara yang memberitahuku bahwa nanti malam, orang paling kaya di lembah ini akan meninggal dunia. Aku tidak tahu maksud mimpi itu, tapi rasanya aku harus memberitahumu.”

Carl mendengus lalu berkata, “Semua mimpi itu bohong.” Kemudian ia mencoklang kudanya.

Ucapan Hans tadi terus menerus terniang di telinganya. “Orang paling kaya di lembah ini akan mati malam ini.” Jelas sekali bahwa orang paling kaya di lembah ini adalah dia. Malam itu ia mengundang dokter pribadinya, dan menceritakan kepadanya apa yang dikatakan oleh Hans.

Setelah meneliti benar-benar kesehatannya, dokter berkata kepada tuan tanah yang kaya itu, “Pak Carl, Anda sekuat dan sesehat seekor kuda. Tak ada alasan bagimu untuk mati malam ini.”

Meskipun demikian, untuk meyakinkannya, dokter itu tetap tinggal di rumahnya sepanjang malam sambil bermain kartu. Keesokan harinya Carl minta maaf kepada dokter atas kekhawatirannya pada mimpi petani tua itu. Dokter pun kemudian meninggalkan rumahnya.

Kira-kira jam 09:00, seorang pesuruh datang ke rumah Carl. “Ada berita apa?” tanya Carl.

“Ini tentang pak tua Hans,” kata orang itu. “Ia meninggal dunia dalam tidurnya tadi malam.”

Jumat, 08 Agustus 2014

Ini Adalah Sesuatu Yang Baik

0


Sehubungan dengan usah untuk memelihara sikap yang baik dalam keadaan sulit, aku pernah mendengar cerita tentang seorang raja di Afrika yang memiliki seorang sahabat karib sejak masa kecilnya. Sahabat raja ini mempunyai kebiasaan untuk mengucapkan, “Ini adalah sesuatu yang baik” atas semua peristiwa yang terjadi, baik maupun buruk.

Suatu hari, raja dan sahabatnya ini keluar untuk berburu. Seperti biasa, sahabatnya menyiapkan senjata dan mengisi amunisi. Kali ini, temannya melakukan kesalahan dalam menyiapkan amunisi sehingga sang raja secara tidak sengaja menembak ibu jarinya sendiri (karena mengira senjata itu tidak berpeluru). Ibu jari raja terluka parah.

Sahabatnya segera mengamati keadaan ibu jari raja, kemudian berkata, “Ini adalah sesuatu yang baik.” Raja menyanggah, “Tidak . . . tidak . . . ini bukan sesuatu yang baik!” Lalu ia memenjarakan sahabatnya.

Setahun kemudian, sang raja pergi berburu. Ia memasuki suatu daerah yang seharusnya ia jauhi. Sekelompok kanibal (pemangsa manusia) menangkap dan membawanya ke desa mereka. Mereka mengikat tangannya, menyiapkan kayu bakar, memancangkan tiang dan mengikat raja di tiang itu. Ketika hendak membakar kayu, mereka melihat ibu jari raja tidak utuh. Karena kepercayaan mereka terhadap takhayul, bahwa tidak boleh memakan seseorang yang tidak utuh. Mereka lalu melepaskan ikatan raja dan membiarkannya pergi.

Sesampainya di kerajaan, sang raja teringat akan kejadian yang membuatnya kehilangan ibu jari. Ia merasa sangat menyesal atas perlakuannya terhadap sahabatnya. Ia lalu bergegas ke penjara menemui temannya.

“Engkau benar,” katanya, “Ibu jariku tertembak adalah sesuatu yang baik.”

Ia lalu menceritakan kejadian yang belum lama dialaminya.

“Aku menyesal sekali telah memenjarakanmu sangat lama. Sungguh perbuatanku ini sangat buruk,” kata raja penuh penyesalan.

“Tidak,” kata temannya, “Itu adalah sesuatu yang baik!”

“Apa maksudmu?!? Bagaimana mungkin itu adalah sesuatu yang baik sedang aku memenjarakan sahabatku sendiri selama setahun?!?,” kata raja keheranan.

“Kalau aku tidak berada dalam penjara, aku pasti saat itu akan bersamamu . . . dan dimakan oleh para pemangsa manusia itu!” kata temannya.

Kamis, 07 Agustus 2014

Siapa Tahu Nasib Seseorang?

0



Konon dahulu kala, ada seorang petani yang memiliki seorang anak dan seekor kuda. Suatu hari, kuda petani itu lepas entah kemana. Para tetangganya menghibur agar si petani tidak bersedih tentang kudanya yang lepas tersebut. Mereka berkata, “Alangkah malang nasibmu wahai petani, kudamu satu-satunya telah lepas entah kemana!”

Si petani menjawab, “Siapa dapat mengetahui nasib seseorang, malang atau mujur.”

“Tentu saja itu adalah nasibmu yang malang,” kata para tetangganya.

Seminggu kemudian, kuda petani itu tiba-tiba saja pulang dengan sendirinya dan diikuti 20 ekor kuda liar. Para tentangganya datang untuk memberi selamat, “Alangkah mujur nasibmu, kudamu telah pulang, bahkan membawa 20 ekor kuda lain.”

Si petani berkata, “Siapa dapat mengetahui nasib seseorang, malang atau mujur.”

Hari berikutnya, anak si petani menunggang salah satu kuda liat tersebut. Ia terjatuh dari kuda dan patah kakinya.

Para tetangga datang menghibur. Mereka berkata “Alangkah malang nasibmu.”

Petani itu berkata, “Siapa dapat mengetahui nasib seseorang, malang atau mujur.”

Sebagian dari tetangga mulai jengkel lalu mereka berkata, “Tentu saja itu suatu kemalangan, dasar orang tua bodoh!!!”

Seminggu kemudian, sepasukan tentara datang ke desa itu, mendaftar semua pemuda yang layak untuk diterjunkan dalam medang perang yang letaknya sangat jauh dari desa itu. Anak si petani yang patah kakinya tidak terdaftar. Pata tetangga datang untuk mengucapkan selamat, “Alangkah mujurnya nasib anakmu. Ia tidak masuk daftar wajib militer.”

Si petani berkata, “Siapa dapat mengetahui kemujuran seseorang?!”

***

Kita habiskan umur untuk memikirkan semuanya. “Ini baik . . . . itu buruk . . . .” Sebenarnya perbuatan itu sia-sia. Kita memberi label bahwa suatu kejadian adalah malapetaka, padahal kita hanya melihat satu persen dari kejadian seutuhnya.


Rabu, 06 Agustus 2014

Apa Yang Akan Ditanyakan Tuhan

0



Tuhan tidak akan bertanya jenis mobil yang kau kendarai, tapi akan bertanya berapa banyak orang miskin yang kau beri tumpangan.

Tuhan tidak akan bertanya berapa m2 luas rumahku, tapi akan bertanya berapa banyak orang yang kau muliakan di dalamnya.

Tuhan tidak akan bertanya tentang pakaian-pakaian indah yang ada dalam lemarimu, tapi akan bertanya berapa banyak pakaian-pakaian itu telah membantu orang yang membutuhkan.

Tuhan tidak akan bertanya apa jabatanmu, tapi akan bertanya apakah kau melakukan pekerjaanmu dengan baik sesuai kemampuanmu.

Tuhan tidak akan bertanya apa yang kau lakukan untuk dirimu sendiri, tapi akan bertanya apa yang kau lakukan untuk sesama.

Tuhan tidak akan bertanya tentang banyaknya teman yang kau miliki, tapi akan bertanya tentang berapa banyak orang yang menganggapmu teman sejati.

Tuhan tidak akan bertanya tentang yang kau lakukan untuk melindungi hak-hakmu, tapi akan bertanya tentang yang kau lakukan untuk melindungi hak-hak orang lain.

Tuhan tidak akan bertanya di lingkungan mana kau tinggal, tapi akan bertanya tentang perlakuanmu terhadap tetangga di lingkunganmu.

Tuhan tidak akan bertanya tentang warna kulitmu tapi akan bertanya tentang budi pekertimu.

Aku Bersyukur Atas . . .

0

Aku bersyukur:

Atas suami/istriku yang selalu menguasai selimut setiap malam, sebab itu ia tidak berada di luar bersama orang lain.

Atas anak remajaku yang tidak mau mencuci piring kotor tapi malah melihat TV, sebab itu berarti ia di rumah, tidak di jalanan.

Atas pajak yang kubayar, sebab itu berarti aku punya pekerjaan, tidak menganggur.

Atas barang-barang yang kotor dan berantakan setelah pertemuan, sebab itu berarti aku baru saja dikelilingi oleh teman-teman dan orang yang kucintai.

Atas pakaian yang agak sempit, sebab itu berarti aku punya cukup makanan.

Atas bayangan yang menyaksikanku pergi kerja, sebab itu berarti aku bisa menikmati cahaya matahari.

Atas rumput yang harus dipangkas, jendela yang harus dibersihkan, dan talang yang harus diperbaiki, sebab itu berarti aku punya rumah.

Atas semua protes kepada pemerintah, sebab itu berarti kita punya kebebasan mengutarakan pendapat.

Atas tempat parkir yang jauh, sebab itu aku mampu berjalan kaki, dan memiliki kendaraan.

Atas tagihan pemanas rumah yang tinggi, sebab itu berarti aku menikmati kehangatan rumah.

Atas tumpukan pakaian kotor yang harus dicuci dan disetrika, sebab itu berarti aku bisa bekerja keras.

Atas keterlambatanku bangun tidur karena alarm tidak bekerja, sebab itu berarti aku masih hidup.